Rabu, 07 September 2011

Saat Kau Tak Ada

Satu minggu berjalan tak terasa semua masih trlihat ramai. Ku lihat kdua adikku sbuk dgn dunia'a, adikku yg besar sedang main ps, sedangka yg kecil di gendong ibuku yg tengah asik bercengkrama dengan saudara- saudara ku di ruang tengah. Keluargaku berkumpul di rumahku selama 7 hari untk tahlilan ayahku. Ya, ayahku trlalu cpat mninggalkan aku, ibu, dan kedua adiku. Tapi itu tkdirNYA. Satu persatu saudaraku mulai pulang untuk melanjutkan rutinitas esok hri, karna malam ini adalah mlam ke 7. Sebelum semuanya pergi aku ketiduran di kamar biasa'a ayah dan ibu melepas lelah. Aku smpat terbngun saat ku dengar rintihan ibuku sayang "Yah kini kamu tlah bersamaNYA kau titipkan ketiga anak kita, sebenarnya aku belum siap yah, uhuhuh T_T" ibuku mnangis. Aku tak bs rskan dengkulku, tak ku rasa air mta telah menjadi pulau di bantalku. Aku tak henti- hentinya menangis walau tak terdngar oleh ibuku karna ku dalam posisi tidur. Guling setia memeluku dalam tangis hingga tnpa sadar aku tretidur kembali.
Saat aku terbangun oleh pagi, ku lihat ibuku kmbali ceria. Mungkin dia tak mau terlihat lemah di hadapan anak- anaknya. Aku duduk sejenak untuk mengumpulkan nyawaku. Ku lihat kedua adikku sedang menonton tv. "Bu ayah blom plang,,?" tanya adikku yg kcil ke ibuku. Smbil trsedak- sedak oleh air mta'a yg tertumpah lewat mulut ibuku menjawab " Ayah udah berangkat kerja lagi dek,,?". "Duh adek kangen ma ayah,,?"Celoteh balita itu. Kami bertiga diam tak mmpu memainkan pita suara di kerongkongan kami. Aku sadar sebagai anak tertua akulah pengganti lakon yg di mainkan oleh ayahku sebgai kepala keluarga. Aku mncoba mncairkan susasana, " Dek beli bubur yu,,?" Tanyaku pada adikku. Anak bungsu itu langsung ku gendong untuk membeli bubur ayam. "Mas, gendong pake kain,," Ku caba menjdi seperti ayahku yg sabar akan sikap adikku yg manja. Ku gendong dia dengan kain, walaupun aku sedikit malu di lihat orang- orang. Sampai di rumah kembali aku bergegas mandi dan pakai seragam sekolah. Di kmar ku lihat adikku yg bsear sedang menangis. Udah de, udah, itu kdirNYA," kataku memecutnya agar tegar. "Mas, mungkin aku kuat, tapi adek kita mas,,?". Hu,,,h. aku menarik napas panjang karna aku pun tak tau harus jawab apa. "Mas adek kita masih kecil dan belum puas akan kasih sayang ayah mas, tapi semua begitu cepat buat adek mas!". Belum sempat ku jawab karna akupun tak mampu menjawab'a. Aku melangkahkan kaki ku ke sekola. "Mas brangkat skla dl ya, udh tlat" alibiku berbicra. Dia terdiam dan menganggukan kepala pertanda ia mengerti akan kebingunganku.
Saat di sekola ku kunci semua isi hatiku. ha,,! hilang bagai setan di makan sengatan matahari saat semua merangkulku dengan canda tawa dari teman- temanku. Sempat tidak terpikir olheku keadaan rumah. Aku tak langsung pulang seusai sekola. Ku ingin lpaskn beban yg membebaniku. Saat itu aku tak peduli dengan nasib ibu dn kdua adiku yg mngkin sdang mncuci wjah mreka dgn air mta'a. mgrib aku plang, Saat ku buka pintu,, "anak tak tau diri, ta* kamu!" ibuku langsung menamparku. "Lihat adikmu!" mulutnya seakan ingin mnelanku blat2. Aku trdiam, adiku yg kcil mnangis, Dan yg bsar hnya mnundukan kpala. Dan adikku yg kcil brtanya "Bu knp sih, ko cman gtu mrah2, ayah ga prnah ngelarang mas maen tp ibu ko mrah sih?". "Ayah mu itu mati,,!" Tanpa ia sdar trcuat kt2 itu dr bibir'a yg manis. Semua trdiam, mlai dr ujung kki hngga ujung kpala trasa prih sperti trsyat bambu kcil lalu ku tmpahkan perih itu dlam tetesan air mta. sjenak bnda cair itu mmbanjiri pipi kusamku yg pnuh dngan debu. Aku lihat adik ku yg bsar jg mnagis. Ibuku jtuh terlungkai, adikku yg kecil memeluk tubuh ibuku seakan ingin mnopang'a. "Ibu, ibu kenapa?, adek ga ngerti mnsut ibu,,?" adikku bertanya dgn polos'a. ingin saat itu ku hadirkan dri'a. Tak snggup aku bnar tak snggup. Pahit prut ini krna tk sbutir nsipun ku tlan hri ini sdh tdk ku rsakan lg. mta ku, adikku yg bsar dn ibuku trtuju pd bcah kcil yg plos itu. Ku lihat wjah'a memelas, seakan mngharapkan pelukan dari Ayah'a. "Mas,,?" adikku brtanya pdku. Au tau ia akan mnanggung beban brat. Kelak nanti saat ia sdah mngerti lelucon ini tp ia tdk mngerti wajah ayah kndung'a. Hanya satu inginku saat itu. ku hanya ingin dia dtang. Memeluk tubuh mungil bocah malang itu. Dan mmnenangkan semua'a. Kuingin ia masih ada di bawah genting rumah kecil ini. Tapi saat itu aku sdar tak akan bisa merubah kadirNYA.
Aku sangat galau. Semua pikiranku larut akan keinginan yg mungkin tidak hanya aku yg mnginginkan'a. Seakan tubuhku trsentuh tangan ksar'a yg bkerja kras untuk khidupan aku, ibu dan kdua adikku. terbisik d tlingaku akan kata- katanya "mas, Bangun, shalat ashar" Suara ayah mmbangunkanku. aku trbangun dari tidur siangku. Huh, ternyata aku hanya mimpi di siang bolong. sykurlah,,. ku lihat pria mmakai sragam kariawan yg ia banggakan, dia ayahku, ayah yg dari tadi aku mimpikan. aku lngsung memeluk'a. "Ayah, jgan prgi dulu. Mas belum siap ayah ga ada, walau itu hanya dalam mimpi". ia tersenyum, tak mengerti mansut omongan ank'a. Ku cium bau keringat lelah yg ia cucurkan dari pgi. "Ayah bru plang?" Tanya ku. "Iya mas, tadi ada lemburan, lumayan lah buat tmbah- tambah beli beras" jwab'a. "jangan kecapean napa yah, mas ga mau ayah kambuh lg skit'a?". Ia hanya tersenyum dan menyuruhku shalat "Mas shalat sana, kalo ayah udah ga ada, cuman itu pesen ayah". Dari dulu kata- kata itu terus terjejal tanpa bosan ia msukan ke kupingku. Kini aku mngerti akan kehadiran'a, sekedar mmberikanku nasehat yg membosankan bagiku. Karna semua itu akan hilang saat jiwa'a telah melayang meninggalkan bumi dan aku. aku takkan siakan kesempatan kedua yg ku miliki. Bagiku mimpi tadi adalah pelajaran yg sangat berharga bagiku.

"SAAT KAU TAK ADA APA AKU SIAP,,?"